Sabtu, 17 September 2016

Aku Mati Lagi

Aku mati lagi
Dibunuh kebodohan diri sendiri
Ditikam dengan pisau kegelisahan
Hingga tergeletak tak berdaya

Aku mati lagi
Terpaksa mengubur diri sendiri dengan penuh kesedihan
Menulis sendiri pula batu nisan yang bertuliskan, "telah mati semangat & gairah hidup"
Karena tak ada yang peduli

Aku mati lagi
Diintrogasi oleh diri sendiri
Dengan bertanya, "Mengapa seperti ini? Mengapa datang kesepian ini? Mengapa seterpuruk ini?"
Dan aku sendiri pun tak bisa menjawabnya

Aku mati lagi
Disiksa di dalam kubur
Oleh diri sendiri pula
Karena tidak bisa menjawab pertanyaan sendiri tadi
Dengan cambuk keputus asaan
Dan celurit penuh rasa kesepian.

Aku berteriak
Aku berontak
Aku bertanya kembali, "Mengapa tersiksa seperti ini?"
Namun lagi-lagi aku pun tak bisa menjawabnya

Mungkin, aku tak siap
Untuk hidup
Untuk bahagia
Untuk tersenyum

Karena, aku mati karena diri sendiri.

Penjilat Ludah Sendiri

Dulu, aku pernah menuliskan surat perjanjian dengan seseorang
Isinya: Aku berjanji tak akan pernah lagi mencari penuntun nafsu
Dan bila aku melanggar, aku harus membuang ludah dan menjilatnya
Lalu ku tanda tangani lah surat itu

Aku pun tak yakin bisa menaati isi surat itu
Tapi ku pikir, aku sudah muak dengan si penuntun nafsu yang sentuhannya dapat membuat pikiranku pergi ke berbagai tempat
Karena berkali-kali aku dikhianati mereka

Namun, pada akhirnya, aku jumpa dengan makhluk penuntun nafsu yang hebat membuat tulisan seperti ini
Mungkin ia lebih hebat dari ku
Aku pun akhirnya dibudaki pikiran dan menggali segala sesuatu yang dimiliki makhluk penuntun nafsu itu

Tapi, ini agak sedikit berbahaya
Ia ternyata memiliki algojo yang sedang dilatih berperang agar lebih hebat dalam mendampinginya
Namun, aku tak peduli
Aku gali terus segala yang dimilikinya

Aku coba bersua dengannya
Aku coba sentuh jiwanya tanpa harus menyentuh tangannya yang lembut itu
Aku coba mencari tau bagaimana ia bisa menjalani hidup yang penuh dengan kebodohan ini
Aku percaya diri cara ku akan berhasil

Lalu, aku mencoba sedikit lebih nakal
Aku bertanya kepadanya sejauh apa ia menjalani hubungan dengan algojo yang menjaganya itu
Lalu ia pun mengucapkan bahwa ia agak bosan dengan algojo nya itu
Algojo nya ternyata lebih sibuk berlatih daripada mendampinginya
Padahal, ia dilatih agar bisa lebih tangguh mendampinginya

Ku rasa, ini saat nya aku mencari celah sekecil apapun
Tapi, bila aku lanjutkan ini semua, aku telah melanggar surat perjanjian yamg pernah ku buat
Dan bila seseorang yang menjadi saksi dalam pembuatan perjanjian ku ini tahu
Aku harus melakukan hal yang pernah ku tuliskan di perjanjian itu: membuang ludah lalu menjilatnya

Kotor

Sendiri membawaku ke lubang selokan yang gelap
Aku mencari sesuatu yang bisa membuatku merasa lebih baik
Namun apa yang bisa ku temukan?
Hanya sampah, kotoran manusia, tikus, kucing dan anjing

Sendiri membuat ku menghitam
Ternodai oleh keterpurukan yang sangat hebat
Tak akan pernah lagi aku menjadi putih
Sampai kau menghapus semua noda ini

Sendiri itu penuh dengan bau tak sedap
Kesedihan yang beraroma kotoran anjing membalut seluruh raga ini
Tak akan ada yang mau mendekati ku
Hanya kau yang dapat menjadi pewangi tubuhku.

Sampai kapan pun, hanya kau yang dapat membuatku bersih.